Selasa, 12 Februari 2013

Pergulatan di Ujung Timur Pulau Jawa




Nelayan Muncar di Banyuwangi, Jawa Timur, bersiap melaut, Jumat (21/12). Nelayan Muncar masih menggunakan perahu dan alat tangkap tradisional untuk menjaring ikan.
Perahu Suhiran (45) perlahan merapat di Pelabuhan Muncar. Wajah-wajah pelaut terlihat lelah, tetapi mata mereka menyiratkan kegirangan. Inilah gambaran kehidupan di Muncar, daerah di ujung timur Pulau Jawa yang lekat dengan perikanan.

Hari itu, Senin (17/12), Suhiran dan nelayan lainnya panen raya. Puluhan ton ikan yang mereka bawa siap berpindah dari lambung kapal ke pabrik-pabrik sarden.
Aroma ikan segar langsung menyeruak begitu memasuki jalan utama kawasan itu. Jalur masuk ke dermaga, pasar, dan jalan besar sesak dengan orang- orang yang mengangkut ikan, es balok, keranjang bambu, dan jeriken bahan bakar minyak. Riuh pedagang, pembeli, dan anak buah kapal bercampur jadi satu. Pagi itu ikan melimpah. Semua orang bergairah bekerja setelah sekian lama paceklik.

Suhiran (45), pemilik perahu, tersenyum menyaksikan ratusan ikannya berpindah tangan ke pedagang. Pada hari itu perahu tradisionalnya berhasil menangkap 10 ton ikan sarden dari Selat Bali. Hanya dengan berkaus oblong, bersarung, dan bersandal jepit, ia pun melangkah ke bank untuk bertransaksi uang.
Muncar adalah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Letaknya di pesisir Selat Bali. Pada masa silam orang merujuk Muncar sebagai pelabuhan di Teluk Pangpang, bagian dari Kerajaan Blambangan. Kini Muncar berkembang sebagai salah satu pelabuhan ikan terbesar di Nusantara.
Suhiran adalah salah satu nelayan yang menikmati melimpahnya ikan di kawasan pelabuhan itu. Ia keturunan Bugis, kakek buyutnya datang ke Muncar jauh sebelum masa kemerdekaan.
Tidak hanya orang Bugis, kampung-kampung nelayan di Muncar juga dipenuhi pendatang, seperti orang Madura, Jawa, dan Mandar.


Muncar memang penuh dengan pendatang. Ratusan tahun lalu suku Madura, Bugis, Mandar, Melayu, China, Jawa, hingga kongsi dagang Inggris dan pasukan Belanda datang ke tempat ini untuk mencari kekayaan Blambangan, berdagang, dan merebut kekuasaan.
Kedatangan para pelaut Bugis dan Madura ke Muncar pada zaman dulu tercatat dalam buku Ujung Timur Jawa, 1763-1813: Perebutan Hegemoni Blambangan yang ditulis oleh sejarawan Universitas Gadjah Mada, Sri Margana.

Dikisahkan, pernah ada kapal besar milik English East India Company, kompeni dagang Inggris, yang merapat ke Blambangan pada Agustus 1766. Mereka membawa pelaut Bugis dan Madura di dalam ratusan perahu kecil. Pedagang Inggris itu menukar opium, senjata api, dan 2 ton bubuk mesiu dengan 10 koyan beras dan kerbau.

Perdagangan yang dibuka oleh Inggris itu membuat orang- orang China, Melayu, dan Mandar tertarik datang. Sebelum Inggris, pasukan dari Mataram, Bali, dan Belanda lebih dulu memasuki Blambangan. Awalnya mereka menetap sementara, tetapi akhirnya mereka hidup turun-temurun di pesisir, menikmati melimpahnya kekayaan laut Selat Bali.

Selama berabad-abad, Selat Bali memanjakan nelayan Muncar dengan ikan, terutama ikan lemuru. Pada 2000-2008, berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Banyuwangi, pelabuhan ini memasok sedikitnya 60.000 ton ikan.

Ikan sebanyak itu tidak diambil dengan menggunakan perahu modern. Nelayan di Muncar masih setia memakai perahu tradisional, seperti jukung dan slereg. Jukung biasanya dipakai oleh nelayan kecil. Adapun slereg atau perahu ganda seperti milik Suhiran bisa berlayar jauh hingga ke Samudra Indonesia.
Slereg memang perahu pengejar ikan. Sekali berangkat, slereg yang jumlah kapalnya sepasang bisa memuat 40 awak kapal dengan kapasitas angkut ikan 25 ton. ”Era 2000-an, slereg hampir selalu penuh ikan saat mendarat lagi di pelabuhan,” kata Muhtadin, nelayan keturunan Madura.

Melimpahnya lemuru menarik para investor datang untuk membangun pabrik pengolahan ikan di Banyuwangi. Jadilah Muncar sebagai pusat industri pengalengan ikan di Nusantara. Industri pengolahan ikan skala kecil pun turut berkembang. Pabrik tepung ikan, minyak ikan, hingga gudang pendingin dan pemindangan memadati kawasan industri perikanan.
Muncar tak habis-habisnya memanjakan nelayan. Saat musim ikan reda, muncul ubur-ubur. Menurut Pamudji (33), nelayan Muncar keturunan Jawa, ubur-ubur biasanya dijual untuk diekspor ke Korea. Harganya tak kalah dengan ikan, Rp 10.000 per kilogram.
Mudahnya mendapatkan hasil laut di Pantai Muncar tidak lepas dari kondisi geografis Muncar. Kuatnya arus di Selat Bali membawa serta ikan dan biota laut lainnya ke Teluk Pangpang. Di sinilah nelayan menjaring ikan yang terseret arus dan terjebak ke teluk.


Sayangnya, potensi itu tak selamanya bisa dinikmati nelayan. Pada 2009-2011, perdagangan Muncar lumpuh total karena paceklik berkepanjangan. Paceklik yang biasanya hanya 1-2 bulan kini mendera sampai 2 tahun. Hasil tangkapan ikan merosot drastis dari 80.000 ton menjadi sekitar 20.000 ton. Nelayan menuding bahwa kerusakan lingkungan menjadi penyebab. Namun, pabrik besar menyalahkan perubahan iklim.
Tak hanya lemuru yang langka. Tongkol dan layar pun menghilang. Industri perikanan terpukul. Pabrik pengalengan menyusut dari 15 unit menjadi 7 unit. Sebagian bertahan dengan menggunakan lemuru impor. Kompleksitas industri di Muncar pun menjadi ironi. Ikan dari Muncar digantikan oleh ikan dari China.
Sumadi (46), salah satu awak buah kapal, bahkan menggadaikan sertifikat rumahnya dan menjual perhiasan istrinya.
Untunglah masa paceklik itu mulai terlewati. Namun, persoalan tetap membelit. Kerusakan lingkungan dan konsumerisme. Muaranya jelas: kemiskinan!

KOMPAS/SIWI YUNITA CAHYANINGRUM
sumber: kompas

Senin, 24 Desember 2012

Update Petik Laut Muncar 2012





Tradisi petik laut yang ditandai dengan melarung sesaji berupa kepala kerbau ke laut belum lama ini kembali digelar masyarakat nelayan di Banyuwangi, Jawa Timur.Ritual nelayan disalah satu pantai pelelangan ikan terbesar di Indonesia ini diadakan tiap tahun pada bulan Suro. Ribuan nelayan Muncar ikut ambil bagian

Ritual diawali iring-iringan sesaji utama di kapal Bitek berupa kepala kerbau, tiga ekor ayam, nasi enam warna keliling kampung. Di pimpin seorang pawang petik laut, sesaji kemudian diangkut kedalam perahu dibawa menuju lepas pantai.

Nelayan Muncar menggelar ritual petik laut sejak tahun 1901. Mereka percaya, jika petik laut tidak digelar dapat mendatangkan musibah. Sampai lepas pantai, pawang memberi aba-aba sebagai tanda sesaji saatnya dilarung. Para nelayan terjun merebut sesaji yang dianggap bisa mendapatkan berkah.


Videonya dibawah ini yaa



Jumat, 17 Agustus 2012

Hari Kemerdekaan Indonesia posting ke 100

 

Saat ini sudah berada di kampung halaman di Muncar,menikmati mudik Lebaran dan Hari ini 17 Agustus 2012 Hari ini juga adalah posting saya ke 100 untuk blog ini, saya membuka browser dan Mesin pencari paling unggul saat ini Google memasang Doodle atau gambar tematis Hari Kemerdekaan Indonesia di laman muka www.google.co.id. Gambar yang dipasang bertema lomba makan kerupuk dan lomba balap karung.  Begitu doodle ini diklik, pembaca langsung diarahkan ke halaman pencarian "Hari Kemerdekaan Indonesia." Pada halaman pertama indeks, muncul sejumlah berita dan halaman Wikipedia yang menjelaskan soal Hari Kemerdekaan Indonesia.



67 tahun lalu, pada Jumat, 17 Agustus 1945 Tahun Masehi, atau 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang, Proklamasi Kemerdekaan  dibacakan oleh Soekarno yang didampingi oleh Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. Hari ini kemudian disebut sebagai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.



Saat ini, setiap tanggal 17 Agustus, selalu dilakukan upacara kenaikan bendera dan penurunan bendera merah putih di Istana Negara. Sementara di masyarakat, perayaan selalu diwarnai dengan sejumlah lomba misal lomba panjat pinang, lomba makan kerupuk dan lomba balap karung. (adi)

sumber: VIVA.co.id